Miqat pada Haji dan Umrah

Pengertian Miqat pada Haji dan Umrah

Hasil gambar untuk miqat haji dan umrah 

Pengertian Miqat Haji Dan Umroh

Dalam ibadah haji dan umrah kita sering mendengar istilah miqat (miqot).
Pengertian Miqat secara harfiah merupakan lokasi tempat seorang jamaah
haji/umroh berihram (berniat ihram, yakni mulai melakukan haji atau
umroh), sebelum yang bersangkutan memasuki Tanah Suci.

Sewaktu memasuki Tanah Suci semua jama’ah harus berpakaian dan mulai
mengucapkan talbiyah. Miqat yang dimulai dengan pemakaian pakaian ihram
harus dilakukan sebelum melintasi batas – batas miqat.

Ada beberapa macam macam miqat. Miqat dibedakan atas dua macam yaitu ;
Miqat Zamani (batas waktu) dan Miqat Makani (batas letak tanah).

1. Pengertian Miqat Zamani

Pengertian Miqat Zamani adalah miqat atau batas yang berhubungan dengan waktu (zaman), yaitu kapan ibadah haji dilakukan.

Al-Quran menyebutkan tentang kapan waktu pelaksanaan ibadah haji,
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah itu
adalah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji dan bukanlah
kebajikan memasuki rumah-rumah yang dari atasnya, tetapi kebajikan itu
adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masuklah ke rumah-rumah itu dari
pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Q.S
Al Baqarah ayat 189).

2. Pengertian Miqat Makani

Pengertian Miqat Makani adalah miqat yang berhubungan dengan
tempat (makaan = tempat, dalam bahasa Arab) batas tersebut ditentukan.
Rasulullah menetapkan empat lokasi miqat bagi jamaah haji atau umroh
untuk berihram, tempat miqat di Mekah, tempat miqat haji dan umrah.

Dalam sebuah hadist Ibnu Abbas ra berkata “Bahwa Nabi SAW telah
menentukan tempat permulaan ihram bagi penduduk Madinah di Dzulhulifah,
bagi penduduk Syam di Juhfah, bagi penduduk Nejed di Qarnul Manazil dan
bagi penduduk Yaman di Yalamlam”.

Dan beliau pun bersabda, “Tempat-tempat itulah untuk (penduduk) mereka
masing-masing dan untuk orang-orang yang datang di tempat-tempat tadi
yang bermaksud hendak mengerjakan ibadah haji dan umrah. Adapun
orang-orang yang tinggal (di dalam daerah miqat), maka dia (berihram)
dari tempatnya sehingga orang Makkah pun supaya memulai ihramnya dari
Makkah pula.”

Mawaaqit (Tempat-tempat Miqat)

1. Syam miqatnya di Rabigh (sebelumnya Juhfah)

Menentukan Miqat Haji Dan Umroh

Juhfah menjadi miqat untuk penduduk Syam (wilayah Suriah dan
sekitarnya). Juhfah merupakan padang tak berpenghuni di dekat Rabigh.
Berihram dari Rabigh dapat dikatakn berihram di miqat karena letaknya
sebelum Juhfah. Karena desa Juhfah kini tidak ada lagi, maka
ditetapkanlah Rabigh sebagai miqat bagi orang yang tinggal di Suriah dan
sekitarnya.

2. Madinah miqatnya di Birr Ali (dulu disebut Dzul Hulaifa)

Menentukan Miqat Haji Dan Umroh

Bagi penduduk Madinah, Rasulullah menetapkan Dzul Hulaifah yang kini
disebut dengan Abyar Ali atau Birr Ali. Abyaar adalah bentuk jamak dari
Birr dalam bahasa Arab.

Para jamaah haji dan umroh yang melakukan perjalanan dari Jeddah ke
Madinah lalu menuju Makkah, akan mengambil miqat dan niat ihram di Birr
Ali ini, dan disini juga menjadi tempat miqat jamaah haji Indonesia.

3. Miqat Dzatu Irqin

Dzatu Irqin adalah miqat yang ditentukan berdasarkan kesepakatan para
ulama. Miqat ini tidak disebut dalam hadist Rasulullah SAW. Miqat ini
merupakan tempat yang dilewati oleh orang-orang di bagian negeri Irak.

4. Nejed miqatnya di As-Sail (dulu disebut Qarnul Manazil)

Bagi penduduk Nejed, miqatnya berada di Qarnul Manazil yang sekarang
disebut sebagai as-Sail. As-Sail terletak sekitar 94 km di sebelah timur
Makkah atau kira-kira 220 km dari Bandar Udara King Abdul Aziz di
Jeddah.

5. Yaman miqatnya di Yalamlam

Menentukan Miqat Haji Dan Umroh

Penduduk Yaman ditetapkan miqatnya berada di Yalamlam yang berjarak
sekitar 93 km dari Makkah. Masjid ini menjadi tempat miqat bagi jamaah
haji dan umroh yang datang dari arah Yaman dan selatan Makkah.

Petunjuk Miqat

Menentukan Miqat Haji Dan Umroh

Para jamaah yang ingin menunaikan ibadah haji ataupun umroh dengan
tujuan Makkah, berkewajiban berihram dari miqat-miqat tersebut.

Bahkan pula disyariatkan kepada jamaah yang menempuh perjalananannya
melalui udara dan laut untuk bersuci terlebih dahulu sebelum menaiki
kedua kendaraan transportasi tersebut.

Setelah mendekati daerah miqat, darimanapun daerah mereka berasal, para
jamaah wajib berihram (mengenakan pakaian ihram) lalu berniat umroh atau
haji sambil membaca kalimat talbiyah.

Yang penting untuk diperhatikan adalah, apabila jamaah lupa untuk
mengenakan pakaian ihram di lokasi miqat yang telah ditetapkan dan
berangkat ke Makkah, maka jamaah yang bersangkutan harus membayar “dam”
atau denda yang telah ditentukan.

Bila kedatangan ke Makkah untuk tujuan berniaga atau bekerja, maka orang
tersebut tidak diwajibkan untuk memakai pakaian ihram. Hal tersebut
sesuai yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadistnya, “ Miqat-miqat
itu untuk penduduk-penduduk wilayah itu, juga untuk penduduk daerah lain
yang hendak haji atau umrah yang melintasi miqat-miqat itu”.

Rasulullah pun ketika datang ke Makkah pada saat pembebasan kota Makkah
tidak mengenakan pakaian ihram karena memang tidak sedang melaksanakan
haji atau umroh. Bahkan sebuah riwayat menyebutkan beliau mengenakan
serban yang dililitkan pada topi baja.

Demikian sedikit pengetahuan tentang batas miqat agar dapat diambil
hikmahnya, agar kita tetap ingat untuk mulai mengenakan ihram menjelang
kedatangan di daerah ihram dan terhindar dari “dam” atau membayar denda.

Untuk baca selengkapnya bisa klik Disini

Paket Umroh 2018 by travel umroh murah, terbaik dan terpercaya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s